Mengapa Cadar Ditolak?

oleh: Ashifa Fauziah (Aktivis Kesetaraan Gender)

 

Kepada saudariku muslimah indonesia yang bercadar dan niqab.

 

Saya sudah berkerudung sejak sekolah dasar, tentu bukan karena pilihan saya. kebetulan saja lahir dalam keluarga santri.

 

Saya sungguh-sungguh tidak membenci pakaian kepala, bahkan sangat menyukainya. Kepada teman dekat saya yang seorang sayyid, saya mengatakan bahwa saya menggunakan penutup kepala sebagaimana halnya ia suka memelihara jenggot panjangnya, tapi bukan karena alasan keagamaan atau sebagai simbol agama. Pada masa dahulu kala, orang yang memakai hijab, berjanggut, dan berjubah secara umum tidaklah identik dengan dari satu agama tertentu saja.

Sesuai tulisan saya kemarin.

 

Disetiap tempat, selalu terdapat norma dan tata krama yang berbeda-beda, oleh karena alam, filosofi, dan budaya setempat. Di kantor imigrasi, orang tidak boleh mengenakan celana pendek, meski sulit dirasionalisasi, tetapi dapat dianggap sebagai tatakrama. Di kolam renang, orang harus berenang menggunakan pakaian renang karena serat tekstilnya, agar tidak merusak air kolam.

 

Digereja-gereja Katholik di Italia turis maupun jemaat tidak boleh memakai celana pendek, kaos singlet atau you-can-see, dan rok mini. Dikawasan borobudur, anda diharuskan memakai kain sebelum memasuki area candi.

Atlet tenis perempuan memakai rokmini dan atlet badminton mengenakan celana pendek untuk kegesitan bergerak.

 

Ada begitu banyak norma dan atau tatakrama di dunia ini. Dan, ada banyak kebutuhan yang berbeda-beda dalam hal menggunakan model pakaian tertentu. Bahkan, ribuan perempuan yang mengenakan hijab panjang lebar dengan gamis labuh lebih suka berada di ruangan berAC jika saat cuaca panas khas Indonesia dan pada akhirnya kembali memakai daster saat di kamarnya sendiri.

 

Sebagai seorang yang memakai hijab setiap hari, saya sadari bahwa stigma kepada muslimah yang tidak berhijab acapkali dianggap remeh, disinilah langkah awal terciptanya segregasi antar kelompok. Mereka yang berhijab mulai menunjukan ekslusifisme dalam segala hal, apalagi yang bercadar.

 

Kita dapat memahami salon-salon khusus perempuan, seperti memahami toilet khusus wanita. Tetapi, salon khusus Muslimah? Kompleks perumahan khusus Muslim? Ini Indonesia, negeri yang heterogen. Di samping itu, eksklusifisme tersebut justru akan memiliki potensi buruk bagi umat Islam sendiri.

 

Pembantaian orang Yahudi di eropa pada perang dunia ke II dimulai dari sikap umat yahudi yang esklusif dan mendapat stigma dari tetangga-tetangga mereka, dan dibakar oleh propaganda-propaganda rasis Nazi serta kepentingan politik elit Yahudi sendiri untuk berdirinya Israel. Karena hidup secara eksklusif, lebih mudah menggenosida orang Yahudi (kelas menengah dan yang tidak tahu politik) saat itu.

 

Hal-hal itu masuk akal dan perlu dipertimbangkan dalam menanggapi persoalan cadar. Namun, sebenarnya, hal yang paling krusial ialah mengenai keamanan publik atau keselamatan umum. Di sini, kepentingan bagi manfaat umat manusia yang lebih luas lebih penting daripada mengakomodasi bolehnya bercadar atas alasan hak kebebasan beragama dan beribadah, juga atas dasar hak kebebasan berpakaian sebagaimana perempuan memakai rok mini.

 

Kita tentu boleh melarang bentuk peribadahan yang menyebabkan seseorang terancam nyawanya karena ada kekerasan, pembunuhan, atau penggunaan narkoba, misalnya.

Begitu juga dalam hal cadar dan niqab.

 

Kita tidak pernah tahu siapa di balik pemakai niqab saat berada di bank, sekolah, kampus, ATM, supermarket, pasar, taman, bus, dan tempat-tempat publik lainnya. Apakah saya salah jika saya khawatir di balik niqab adalah seorang lelaki, atau membawa senjata untuk merampok, atau hal-hal kriminal lainnya?

 

Norma tatakrama di Nusantara juga justru menganggap tidak sopan pemakai cadar karena kita jadi tidak mengenalnya. Karena kita bangsa yang suka menyapa dan suka memberikan makanan kita kepada tetangga, maka jika saya tidak kenal siapa yang sapa, atau siapa tetangga saya, bukankah jadi tidak sopan namanya?

 

Dunia saat ini dipenuhi kejahatan, dan memakai niqab atau cadar sangat berpotensi besar sebagai kamuflase para penjahat. Toh Niqab dan cadar bukan mandatori dalam islam, bukan sesuatu yang ushul atau sesuatu yang utama. Lagipun, ulama dan hujjah yang merekomendasikan Niqab itu minoritas jumlahnya.

 

Jika perempuan muslim mengenakan cadar dengan alasan untuk kebebasan beribadah, tentulah tidak dilarang jika di dalam ruang privat. Lagipula kalian kan pada umumnya berpendapat bahwa tempat terbaik bagi muslimah adalah rumah?

 

Daripada terus-terusan bersikap egois meminta dipeluk ditempat publik, itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah dan keresahan publik akan potensi besar niqab sebagai kamuflase untuk kejahatan.

 

Kecuali kalau anda memang sudah benar-benar siap berniqab secara maknawi, bukan lagi membicarakan bungkus pakaian. Berniqab dalam artian anda meninggalkan keinginan duniawi. Tak ingin terlihat menarik, tak suka jadi perhatian publik, tak ingin terlihat lebih agamis, tak merasa lebih baik dari orang lain, tak memaksa dan menghakimi orang lain yang berbeda pandangan dan sudah tak ingin kesenangan-kesenangan duniawi lainnya. Karna ia telah menutup dirinya untuk dunia yg fana ini. Hidupnya itu hanya untuk memuliakan Allah. Harusnya dia menyendiri, menghindar dari hiruk pikuk dunia.

 

Berniqab sekarang ini saya lihat banyak yang hanya sekedar mengikuti trend dan style untuk bergaya. Berniqab tapi masih main medsos bahkan ribut dan nyebar hoax, masih keliling mall, belanja ini itu, masih karaokean, masih nongkrong di resto haha hihi, masih asik ngomongin politik, arisan, masih pingin sekolah, pingin kerja diluar rumah, masih pingin nonton bioskop, malah ada yg masih pingin berenang. Itu kan yg malah bikin ribet dan ribut.

 

Saya tidak mempermasalahkan pilihan berniqab, tapi kalau tidak siap ya tidak usah dipaksakan. Karna berniqab itu sungguh sangat sulit.

Semisal saya sudah siap menutup aurat bahkan sampai berniqab, saya seharusnya juga mampu menutup diri ini dari kesenangan-kesenangan duniawi, tinggalkan medsos, menyingkir dari hiruk pikuk dunia, tak terikat pada benda-benda duniawi lagi.

 

Saya hanya ingin berdoa di rumah, tanam sayuran sendiri, panen, masak untuk kebutuhan makan, berdoa lagi, pokoknya jangan sampai keberadaan saya membuat orang lain susah dan ribut. Karena kalau orang lain merasa terganggu akan kehadiran saya dan itu menjadi keributan, maka itu akan menghambat proses ibadah saya sendiri. Karna hidup dan kebahagiaan saya itu hanya untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan memuliakan-Nya, bukan memuliakan ego sendiri.

 

Pertanyaan saya. Sudah siap?

 

Kalau belum. Marilah sama-sama menjaga keamanan dan kenyamanan publik. Kalau anda merasa aman karena niqab anda, tetapi orang asing yang tidak mengenal anda merasa tidak aman, itu bukan kemaslahatan dari anjuran menjulurkan jilbab yang dimaksudkan dalam ayat al-Qur’an.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *