Opini

Memaafkan di Hari Ampunan

oleh: Ade Wahyudin

Sebuah adagium Turki terkenal pernah mengatakan, “Kucukten kusur, buyukten af”, yang artinya “Orang berjiwa kerdil banyak berbuat khilaf, orang berjiwa besar banyak memberi maaf”. Memang benar, memberi maaf merupakan suatu sikap besar yang memerlukan keberanian yang luar biasa, memaafkan juga merupakan pilihan yang cukup sulit, apalagi jika dirasa telah menorehkan luka hati yang cukup mendalam. Sifat pemaaf juga merupakan bentuk refresentasi dan manifestasi dari nama Allah Yang Maha Pemaaf. Betapa Allah sendiri berfirman dalam Al-Qur’an: “Jika kamu melahirkan suatu kebaikan, menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan, sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa”. (Q.S. An-Nisa: 149)

Rasulullah SAW adalah contoh ideal figur manusia yang sangat Pemaaf. Dalam sejarah dikatakan, bahwa saat terjadi perang Uhud, paman beliau SAW yang bernama Hamzah bin ‘Abdul Muthalib RA gugur sebagai syahid. Pada saat itu pula, beliau melihat jasad pamannya yang dikoyak dan dirobek dengan penuh Angkara di tangan musuh. Namun, dengan segala kepedihan yang beliau rasakan, disaat musuh terus menyerang untuk menghabisi nyawanya, tidak pernah terlontar sedikitpun dari lisan beliau yang suci sumpah serapah untuk menghabisi lawan-lawannya. Dalam tragedi perang Uhud tersebut Rasulullah SAW juga sempat terluka cukup parah dibagian kepala dan giginya hingga beberapa nya ada yang tanggal. Selanjutnya saat beliau melakukan misi dakwah ke daerah Thaif, hingga mendapatkan penolakan serta perlawanan dari penduduk kota tersebut, pun padahal malaikat Jibril menawarkan balasan bagi penduduk Thaif, justru dengan bijaknya Beliau menengadahkan kedua tangannya seraya berdoa: “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka itu benar-benar tidak tahu”. Kesabaran dan sikap ksatria Beliau untuk memaafkan musuh-musuhnya itupun akhirnya terbayar dengan peristiwa penaklukan kota Makkah yang kelak dikemudian hari dikenal dengan peristiwa Futuh Mekkah.

Pada saat duduk bersama para sahabatnya, Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabatnya: “Maukah kalian aku beri tahu sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan dan meninggikan derajatmu?”, Para sahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasul”. Lantas Baginda bersabda, “Bersabarlah terhadap orang yang membencimu, maafkan orang yang menzalimi mu, berilah kepada orang yang memusuhi mu, dan sambungkan lah silaturahmi dengan orang yang memutuskan tali silaturahmi denganmu”. (H.R. Thabrani).

Memaafkan adalah sikap para ksatria agung, dan karenanya nama-nama besar mereka senantiasa dikenang bukan hanya oleh kawan, namun juga lawan. Pribadi-pribadi pemaaf sebagaimana yang telah dilakukan oleh Salahuddin Al-Ayyubi, menorehkan sejarah manis antara muslim dengan musuh-musuhnya. Sejarah juga mencatat, saat kota Yerusalem kembali ditaklukan oleh Salahuddin, beliau memberi maaf sekaligus menjamin kebebasan dan keamanan atas kaum Kristen dan Yahudi. Padahal sebelumnya, di kota tersebut banyak diantara kaum muslimin yang menjadi korban dalam peristiwa perang salib. Sikap Salahuddin yaanv pemaaaf dan murah hati, disertai dengan ketegasan beliau adalah contoh kebaikan bagi seluruh alam sebagaimana diperintahkan dalam ajaran Islam.

Peristiwa menarik lainnya semisal penaklukan Konstantinopel (857 H/1453 M) oleh Muhammad al-Fatih juga menjadi momen berharga betapa kejayaan Islam semakin agung tatkala orang-orang besarnya, para pemimpinnya bersikap pemaaf bagi sesamanya. Sikap pemaaf juga merupakan maqam yang tinggi di sisi Allah SWT. Beliau berfirman: “Sungguhlah orang yang sabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Q.S. Asy-Syura: 43). Disampingnya itu, pribadi pemaaaf juga Allah tempatkan dalam maqam Ihsan. Derajat Ihsan merupakan maqam tertinggi dari keislaman seorang hamba, dan tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba Allah yang khusus sajalah yang mampu mencapai derajat yang mulia ini. Firman Allah dalam Al-Qur’an: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (Q.S. Ali Imran: 134)

Oleh karena itu, dalam suasana lebaran yang masih kental dengan tradisi saling maaf memaafkan ini, marilah kita jadikan diri kita sebagai pribadi tangguh yang bukan hanya saja meminta maaf, namun juga berani memaafkan. Saat ini kita butuh manusia-manusia yang tidak hanya amanah dalam melaksanakan tugasnya, namun juga bisa menjadi pribadi pemaaf bagi sesamanya. Pribadi pemaaf merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu meraih nya. Semoga kita senantiasa menjadi ksatria yang mau memaafkan kesalahan orang lain, dengan begitu pesan Allah SWT yang disampaikan bahwa Islam adalah agama kedamaian dan cinta kasih semakin menebarkan aromanya di seantero jagat raya.
Ja’alanallahu waiyyakum Minal ‘Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya Idul Fithri 1 Syawal 1439 H.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *